Sosialisasi Pengembangan Kedelai Di Kabupaten Mamuju Tengah.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, kontribusi usaha pertanian dalam peningkatan perekonomian Mamuju Tengah cukup signifikan, dimana Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Mateng dibidang pertanian berkontribusi 70 persen atas pendapatan PDRB. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Mamuju Tengah, Muh. Anwar pada kegiatan Sosialisasi Pengembangan Kedelai di Kabupaten Mamuju Tengah. Sosialisi tersebut berlangsung di Pendopo Rujab Bupati Mateng, Rabu (7/10/2020) dibuka oleh Plt. Bupati Mamuju Tengah, Bau Akram Dai didampingi langsung oleh Kadishut Sulbar, H. Hamsah, Kadis Perkebunan Sulbar, H. Waris Bestari, Staf Ahli Gubernur Sulbar, Fachruddin, Kadis Pertanian Mateng, Muh. Anwar. Pada kesemptan itu, Kadis Pertanian Mateng, Muh. Anwar menyampaikan, Kabupaten Mateng sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan pertanian, kurang lebih 65 persen masyarakatnya adalah petani yang bergerak dibidang pangan dan perkebunan. Terkhusus pengembangan komuditas Kedelai, kata Anwar, Kabupaten Mateng dulu dikenal sebagai penghasil kedelai jauh sebelum program Upaya Khusus (UPSUS) Pajale dicanangkan pemerintah pusat. Sebagai daerah agraris Kabupaten Mateng mempunyai lahan yang cukup berpotensi dalam pengembagan tanaman pangan, baik dilahan basah maupun lahan kering. “Nah, berdasarkan data yang kami himpun dari teman-teman penyuluh melalui SP Lahan, potensi lahan kering untuk tanaman pangan di Mateng antara lain, sawah tadah hujan seluas 5.048 Ha, Kebun seluas 14.116 Ha dan Ladang seluas 1.315 Ha. Disamping lahan reguler tersebut, terdapat penambahan potensi yang cukup besar dari lahan perkebunan, terkhusus pada kegiatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang sampai saat ini seluas 11.116 Ha dan dana yang sudah tersalur seluas 3.845 Ha dan telah siap untuk menambah potensi penanaman tanaman pangan di mateng,” kata Anwar. Terkhusus bantuan pemerintah melalui UPSUS Pajale lanjutnya, Mamuju Tengah mendapat alokasi bantuan pengembangan Kedelai, pada tahun 2016, 2018 dan 2019. Namun terdapat keluhan dari petani maupun penyuluh lapangan, Pendistribusian benih dan sarana produksi yang tidak tepat waktu sehingga meleset dari jadwal tanam petani. Kualitas benih yang disalurkan kurang baik sehingga hasil produksi sangat kurang, Hasil produksi kedelai yang dijual cukup murah bahkan tidak ada pembeli. “Untuk itu, melalui kegiatan ini diharapkan dapat menemukan solusi yang membuat petani sejahtera, khususnya di Mateng,” ungkapnya. Ditempat yang sama, Pjs Bupati Mateng, Bau Akram Dai menyampaikan, pembangunan yang dimulai dari desa dengan prioritas pada pertanian menjadi jalan sekaligus solusi untuk mensejahterakan rakyat, termasuk membuat swasembada pangan jadi kenyataan. Menurutnya, peluang peningkatan produksi melalui pengembangan tanaman pangan dilahan kering dan lahan tandus, sangat potensial guna memenuhi kebutuhan pangan nasional yang terus meningkat. Dia katakan, komuditas kedelai merupakan salah satu komuditas yang memiliki posisi penting dan strategis dalam perekonomian nasional, sebagai bahan baku pembuatan tahu dan tempe, akan tetapi komuditas ini kurang diminati oleh petani. “Olehnya itu, mengingat luasnya lahan kering yang tersedia pada wilayah Kabupaten Mateng yang memiliki potensi untuk pengembangan tanaman kedelai, maka tidak salah kiranya komoditi ini dapat di kembangkan di wilayah Kabupaten Mateng, yang mana dapat memacu peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat ditengah kondisi wabah pandemi covid 19,” ujarnya.